Tuesday, February 09, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlist, dan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa, secara ekologis, ekonomi, ilmu pengetahuan ataupun sosial budaya. 

Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Surili ini di blog ini, akun sosial media kami twitter, Instagram, FB @swaraOwa.

bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018




Read more...

Thursday, January 21, 2016

Ponsel Cerdas untuk Monyet

Kemampuan ponsel saat ini sudah luar biasa, kira kira 3 tahun yang lalu dilapangan kita selalu tergantung kepada beberapa alat penelitian, khususnya untuk data recording. GPS seukuran kepalan tangan, Kompas, camera pocket, lensa makro, belum lagi alat tulis dan peta. Namun kini dengan satu alat saja semua sudah tersedia. Smartphone yang berkembang saat ini sangat membatu kegiatan penelitian dan pelestarian alam, catatan penelitian tinggal di tulis dan disimpan dalam smartphone, mencatata posisi koordinat, ketinggian lengkap dengan keterangan foto dan video juga bisa dilakukan, dan tinggal disimpan di “awan” kemudian bisa kita share dengan teman atau di media sosial.

ponsel cerdas juga ringan di bawa untuk primate watching

Dengan kemampan cerdasnya ponsel ini juga berkontribusi utuk membantu kegiatan pelestarian alam disekitar kita. Sudah banyak tempat-tempat yang kita foto dan kita bagikan kepada orang lain lewat media sosial, mengundang orang lain untuk datang dan akhirnya tempat itu jadi ramai bahkan beberapa kasus sebelumnya juga obyek alam tersebut jadi rusak dan tidak dapat di pulihkan dalam waktu yang singkat.

Kisah badak afrika, geotag dalam foto memudahkan pemburu dalam mencari lokasi badak yang akan diburu dan di ambil culanya. "Selfie seeker" trend baru di dunia sosial media, selain membuat terkenal sebuah lokasi juga membahayakan habitat dan diri mereka sendiri karena kadang ingin meraih "like" atau "comment" yang banyak. Tidak hanya foto bahkan beberapa pemburu ini memanfaatkan jurnal penelitian yang memuat temuan species baru, dan ironisnya species itu baru beberapa minggu sebelumnya di terbitkan dan sudah di temukan tersebut di temukan di pasar satwa.(baca disini).



dengan ponsel anda juga bisa menjadi ilmuwan warga (citizen scientist)

Ada juga yang mengungah foto-foto yang tidak ramah sama sekali, hewan buruan yang di dapat dan dengan bangganya mendapat like dari banyak orang. Kemudian menjadi viral untuk tidak hanya menghujat namun juga beberapa di ataranya katanya juga di tindak tegas sesuai hukum yang berlaku. ponsel pintar, namun juga belum tentu di gunakan sesuai ke pintarannya. Foto-foto dari ponsel pintar ini, semakin membuat simpel perdagagan satwaliar dan berkembangnya hobi memelihara binatang tentu membuat pasar-pasar hewan semakin sepi, dan binatang-binatang hutan banyak di habitat sosial media. transaksi semakin tinggi mendekatkan binatang yang biasa di hutan dengan manusia, hewan-hewan semakin berkemanusiaan, karena selalu dalam habitat manusia, makan, minum, kawin, smua disediakan, tanpa peduli resiko penularan penyakit. Hutan semakin sepi, kosong dan tidak berpenghuni. Rantai makan dan dimakan yang menjadi alur keseimbangan alam menjadi kacau karena satu mata rantai hilang. Lucu menjadi alasan utama untuk membawa hewan liar ini dalam habitat manusia.


Tekanan terhadap habitat satwaliar dan alam yang tidak pulih pada umumnya sudah tentu akan semakin tinggi dengan teknologi informasi yang cepat ini, Jepret , unggah, like, share dan share...kemudian berbondong-bondong datang ke tempat tersebut. Dari sisi ekonomi tentu ada dampak, karena kegiatan kunjugan juga tentu banyak jasa yang terkena efeknya. Interaksi langsung pengunjung dan warga setempat juga akan mengalami dinamika perubahan. Bagaimana dari sisi ekologi dan sosial budaya? bagaimana ponsel pintar ini juga mengajak dan melestarikan alam??

Ponsel pintar dan kekuatan sosial media yang sedang naik daun ini harusnya bisa menjadi tools baru untuk para ilmuwan,pegiat pelestarian alam, pemerintah, untuk melestarikan species yang terancam punah dan juga habitatnya.

Read more...

Sunday, December 27, 2015

Polygamy monyet : evolusi sistem sosial di tahun monyet

Rekrekan (Presbytis comata)

Sekedar berbagi pengalaman tentang pengamatan primata (primate watching) selama tahun ini di sekitar habitat Owajawa, Jawa Tengah. Ada pengalaman unik yang sekiranya bagi oranglain itu biasa saja namun, bagi saya juga menyenangkan karena mengamati primata di alam juga tidak mudah dan tidak setiap perilaku primata di alam bisa kita pelajari.

Tidak banyak dokumentasi foto tentang perilaku-perilaku primata di alam, moment yang langka, kadang kita melihat perilaku unik, tapi karena di alam tentu saja mendokumentasikannya dalam foto akan sangat sulit. Kali ini terkait dengan sosial sistem dari jenis-jenis monyet pemakan daun, yang konon evolusi sistem sosialnya lebih primitif daripada jenis-jenis kera, seperti Owa atau Orangutan.  Hutan Sokokembag Petungkriyono, Pekalongan, ada kelompok Rekrekan Presbytis comata (4 individu) yang waktu itu saya ikuti pergerakannya. Ketika saya melihat waktu itu ada 3 idividu sedang berada dalam jarak yang dekat, kemudian satu individu (betina 1) memasangkan badannya untuk di naiki individu yang lain ( si jantan), setelah event kawin dengan individu betina 1, si Jantan melihat individu lainnya (betina 2) yang sudah memasangkan badannya untuk si jantan. Kemudian si Jantan juga naik dari belakang (liat foto ya..). Tidak terjadi konflik apapun dan kemudian mereka kembali bersama foraging.
 Bagaimana menurut anda??






Mari kita sambut datangnya tahun monyet 2016
Read more...

Sunday, December 06, 2015

Monyet Jawa minum wine Paris

Pepatah “seribu teman masih kurang” adalah benar adanya, dan kadang teman-teman ini muncul begitu saja, atau memang teman teman ini, seperti titik- titik yang belum terhubung yang kadang walaupun dekat kita juga tidak nyambung. Kadang ada yang jauh tapi lebih cepat nyambungnya. Kira-kira bulan October lalu saya bertemu dengan orang yang tertarik dengan kegiatan pelestarian Owajawa dan juga kopi, melalui project “Kopi dan Konservasi Primata”.

Primate of The World "Jean-Jacques Petter"
Kawan baru ini pada awalnya biasa saja karena kami baru bertemu dan ngobrol-ngobrol sedikit, dan saya tahu bahwa di adalah film maker, terutama terkait dengan alam dan flora faunanya. Singkat cerita saya ajak teman baru ini ke Sokokembang, menikmati langsung kopi hutan dan melihat owa, sukur-sukur bisa motret Owa jawa, atau fauna lainnya. Lebih senang lagi, ketika saya sedang ada acara primata di wildlife singapore bulan november kemaren, saya tidak sempat bertemu dengan teman saya itu, namun saya mendapat titipan sebuah buku dan 2 botol wine. Dan buku itu adalah yang sangat memukau saya hingga saat ini, sebuah ilustrasi guide tentang primata dunia. Buku itu berjudul “ Primate of the World, an Ilustrated guide”.
Jenis-jenis Owa dalam buku Jean-Jacques Petter

Mendapatkan buku ini seperti mendapat harta karun juga, apalagi ada 2 botol wine, cukup untuk menambah semangat obrolan tentang kopi dan primata dengan teman-teman. Awalnya  tidak menyangka bahwa teman ini ada darah “primatologist” dalam tubuhnya, ketika dia cerita tentang ayahnya yang peneliti primata di madagaskar. Saya pun semakin antusias, mencoba mencari tahu tentang peneliti-peneliti di Madagaskar yang fokus Lemuridae. Ada nama Jean-Jacques Petter, dan tidak begitu akrab dengan nama ini, namun karena jaringan primatalogist  dan juga mengikuti perkembangannya, akhirnya saya merasa sangat senang dengan teman baru  ini. Jean-Jaques Petter, adalah salah satu legenda primatologist dari eropa, yaitu Prancis, dan beliau adalah salah satu di antara yang pertamakali melakukan rintisan penelitian dan kegiatan pelestarian lemur di Madagaskar. Beliau adalah research fellow di “Center National de la Rescherche Scientific” di Paris. Saya mengikuti tetang lemur ini dari beberapa pertemuan primata, menyebutkan bahwa saat ini di madagaskar terdapat lebih dari 100 jenis lemur.!! Jean-jacques Petter adalah penulis buku kitab “ Faune de Madagaskar” , tahun 1977, Petter dan istrinya juga di sematkan kepada salah satu genus dan species lemur di Madagaskar. 
Terimakasih Petter atas buku dan wine nya. Read more...

Monday, November 09, 2015

Berdamai dengan Monyet : Mitigasi dan Persepsi

mudah mudahan anak monyet jadi senang dan tidak mengganggu lahan pertanian

Kira-kira kalau dengan cerita monyet yang menyerang lahan warga atau tanaman pertanian apa yang anda pikirkan? Bingung ya....? ya kira-kira begitulah, karena kita nggak pernah ngalamin jadi petani yang habis dan rusak tanamannya dan juga kita gak sempat mempelajari monyet ini sedemikian dekat sehingga bisa menjadi pawang monyet mungki begitulah kira-kira sehingga kalau ada monyet datang kita dapat berkomunikasi dan menghalau monyet dengan baik-baik.
alat mitigasi konflik monyet dan manusiaa

Tulisan ini hanya sekedar opini pribadi, tentang hubungan yang kurang harmonis antar monyet dan manusia belakangan ini yang terjadi di hampir di beberapa wilayah di Indonesia. Dari pantai sampai gunung, dari kampung sampai kota, baik di hutan alam ataupun sekitar habitat manusia. Beberapa waktu yang lalu, masih di seputaran habitat Owa, sering kali kita ngobrol-ngobrol tentang sekitar kita yang terkait dengan primata, dan sudah pasti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) inilah yang paling populer, karena langsung berinteraksi dengan warga sekitar hutan ataupun manusia yang sering di sekitar habitat monyet (atau monyet yang mendekat ke habitat manusia) Beberapa cara menghalau monyet ini kadang berbagai cara dan hampir tiap tempat punya caranya sendiri, yang saya temui di sekitaran tempat penelitian di Sokokembang, biasanya warga memasang sesuatu yang mirip manusia yang di tinggal lahan pertanian. Tujuannya adalah menakut-nakuti monyet dan binatang lain . Yang menarik disini adalah berbagai pakaian yang digunakan untuk alat penghalau ini di rangkai sedemikian rupa dengan sebuah tali yang di ujung tali ini salah satunya ada mekanisme penarik yang memanfaatkan aliran air di sawah tersebut. Sehingga mereka akan bergerak sendiri kena air yang menarik-narik tali itu. 
lahan pertanian di tepi hutan

Mirip manusia! Harapannya monyet atau binatang akan takut karena kita pikir monyet mengira bahwa sawah ini ada yang menjaga. Tapi apakah monyet juga berpikir seperti itu?? Cara yang paling ramah terhadap monyet hingga cara yang paling sadis mungkin saja sudah pernah kita jumpai di berbagai tempat-tempat konflik. Dan mungkin antara satu tempat dengan tempat laiannya juga tidak sama penanganannya, karena dengan banyak faktor yang terlibat. Hubungan dengan monyet juga akan terus berkembang dengan kompleksitas situasi, mudah-mudahan ada kedamaian di antara monyet dan manusia. Mungkin ada cerita lain dari sekitar anda?? 

Bacaan : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19479953

Read more...

Tuesday, August 11, 2015

Kopilogi dan Primatologi, Secangkir Jawa untuk Owa (bagian 2)

Tulisan pertama “primatologi dan kopi” membuat berangan-angan terus ketika melihat tanaman kopi di antara sisa-sisa hutan dengan aneka hidupan liar yang ada didalamnya. Kopi owa, hingga project ini berjalan telah sedikit banyak menjadi bahasa yang lebih mudah di terima ketika menyampaikan cerita tentang Owa jawa. Meskipun belum sepenuhnya menjadi sumber dana yang mencukupi untuk kegiatan lapangan, setidaknya arah kegiatan pelestarian owajawa dan habitatnya menemukan rel yang sepertinya akan terus bertambah panjang. Ada movitasi tersendiri ketika sekarang ke hutan dan kopi hutan ini telah menjadi bagian yang penting dalam siklus project.

Kopilogi, natural science tentang kopi juga semakin menarik untuk dipelajari, seperti saat ini, seringkali kalau di hutan kita temukan kopi yang sedang berbunga, dan ketika berbunga biasanya ketika musim kemarau, ketika dingin menusuk tulang di pagi hari, aroma kembang kopi ini sangat harum semerbak. Ingin rasanya mengirim aroma kembang kopi ini lewat tulisan ini supaya pembaca bisa ikut merasakan nikmatnya tinggal di hutan yang terdapat tanaman kopinya.

Bunga kopi ini dari beberapa cerita di kampung tempat saya penelitian, beberapa kali mengalami mekar, gugur dan mekar lagi, katanya untuk yang robusta ini sampai 7 kali di hutan Sokokembang. Fase berbunga ini secara alami memang fase untuk mempertahankan generasi kopi itu sendiri, hingga akhirnya menjadi buah. Namun pembuahan yang terjadi ketika serbuk sari bertemu putik tentunya ada faktor dari luar yang membantunya. 

Catatan penelitian menyebutkan selain angin, faktor pembuahan bunga kopi ini juga banyak di bantu oleh serangga. Kami juga melakukan studi awal tentang peran serangga dalam proses penyerbukan kopi hutan, di habitat owa. Masih berupa catatan lapangan, data awal ini memberikan input tersendiri tentang bagaimana kopi hutan atau shade grown coffee di habitat owa. Meskipun juga ilmu tentang serangga ini juga sangat kompleks, ada hal yang baru yang bisa kita dekati untuk mempelajari kopi dan pohon hutan disekitarnya yang menopang produktifitas kopi hutan.

Foto-foto dari lapangan jenis-jenis serangga yang kita temui ketika musim bunga kopi di antaranya lebah, tawon, kupu,ngengat, dan lain-lainnya. Laporan-laporan tentang kopi di bawah naungan atau shade grown coffee menyebutkan bahwa jenis-jenis serangga juga sangat berperan dalam produktifitas buah kopi, dan tentunya hal ini sangat menarik untuk di teliti lebih lanjut bagaimana serangga-serangga ini secara ekonomi adalah sangat penting dalam menyokong kehidupan warga sekitar hutan. 

lebah (stingless bee) sedang hinggap di bunga kopi

Tidak hanya menyerbuki tanaman kopi, lebah lebah ini konon bisa terbang sejauh 1800 meter untuk berkelana mencari polen dan lebih penting menjaga keberlangsungan proses regenerasi (sebagai penyerbuk/pollinator) dari pohon hutan yang ada di wilayah jelajahnya. Kalau dalam hal ini kopi owa, para serangga ini juga berperan penting dalam peyerbukan pohon-pohon buah yang di makan oleh Owajawa. 
kopi hutan  (shade grown) habitat Owajawa
kupu kupu di habitat kopi hutan

Jadi masih banyak hal yang akan terus menarik untuk di pelajari di dalam kopi hutan ini, dan banyak pilihan bagi anda untuk terlibat langsung berperan dalam sistem ekologi, sebagai peminum kopi, bagaimana kopi yang anda minum juga dapat berperan melestarikan hutan dan lingkungan sekitar anda??

Selamat minum kopi.. !

Bacaan : 
Klein, A‐M., Ingolf Steffan‐Dewenter, and Teja Tscharntke. "Pollination of Coffea canephora in relation to local and regional agroforestry management." Journal of Applied Ecology 40.5 (2003): 837-845 Read more...

Monday, August 03, 2015

#fieldworkfail Cerita Gagal para Monyet

Ada yang saya suka dari sosial media twitter, yaitu dapat membangun komunitas sendiri berdasar # hastag dan kata-kata yang menarik perhatian. Awal bulan agustus kali ini ada hastag #fieldworkfail yang dengan singkat menjadi ‘social experiment’ yang lain daripada yang lain, hingga saya menulis tentang ini.Yang mengirim posting posting  ini biasanya adalah para pekerja lapagan, peneliti, field biologist atau conservationist. Banyak cerita-cerita yang sebenarnya kalau di lapangan bukan sesuatu hal yang menyenangkan bahkan kadang membahayakan diri kita sendiri. Namun setelah itu kadang setidaknya kita di buatnya menertawakan dirikita sendiri.

Penelitian ataupun kegiatan konservasi yang jauh dari kemudahan sarana dan prasarana membuat kita harus kreatif di lapangan, karena kegiatan ini juga tidak cukup sedikit biaya , waktu dan tenaga yang kita harus sediakan. Beberapa cerita berikut dan foto-foto mungkin akan bermakna lebih dari kata-kata, yang pernah saya alami ketika di lapangan dengan hutan, primata-primata , kondisi alam dan manusia-manusia di sekitarnya. Membuat kita kadang memang alam tidak bisa kita duga dan harus berhati-hati di kemudian hari.

#fieldworkfail 1. Salah satu cerita yang tetap terngiang hingga saat ini juga ketika expedisi mencari monyet langka di kalimantan timur, ketika itu saya dan seorang teman sedang menyusuri sungai Sangata dari arah hulu, di sekitar muara sangata, menjelang sore kami sedang melihat bekantan dengan menggunakan boat, tapi entah bagaimana tiba-tiba boat kami bertabrakan dengan boat dari arah depan, dan terbalik di muara sungai yang konon banyak buayanya itu. Camera , berikut lensa, gps, binokuler, handycam. Tenggelam dan beberapa hilang di muara sungai Sangata itu. Saya sempat tenggelam dan di balik boat yang terbalik itu, dan teman saya juga selamat . bersyukur kita selamat, meskipun kita harus kehilangan alat-alat penelitian dan mengganti biaya servis mesin boat. Salah satu binokuler sempat terselamatkan, dan harus di bongkar juga, karena kerendam air payau sungai sangata. Kemudian kami dengan peralatan tersisa dan kami harus melanjutkan expedisi lagi ke arah Sangkulirang. 

binokuler harus di bongkar karena berembun di dalam



 #fieldworkfail 2. Kali ini, cerita dari bumi mentawai, ketika saya sedang melakukan penelitian tentang distribusi Bilou (Hylobates klossii) di Pulau Siberut. Kala itu kami sedang menyusuri sungai siberut menuju hulu, sungai yang tanggung (tidak banjir dan tidak kering) membuat motorist (pengemudi sampan) menjadi agak canggung juga memilih jalur. Ketika perjalanan sudah kira-kira 2 jam, dari muara siberut, baling-baling kami mengenai batu , dan kami harus menepi dulu dan melihat baling-baling itu, karena setelah suara “bletakkk” itu sampan tidak dapat melaju lagi seperti sedia kala. Kami menepi dan mengecek baling-baling itu, ternyata patah, dan ketika di cari-cari baling-baling penggantinya ternyata motorist tidak bawa penggantinya. Malah kunci-kuncipun tidak bawa...haduuuuu..hh. 


Sungai dangkal di Siberut membuat baling-baling patah berulangkali

 #fieldworkfail 3. Cerita ini dari kegiatan untuk Owa jawa, kala itu wilayah survey kami mencakup area jawa tengah, mulai dari dieng sampai pegunungan pembarisan di Brebes, kami ber4 dengan kendaraan lapangan kami full loaded selama 1 bulan mencari informasi dimana masih ada hutan dan owa di Jawa Tengah, jala-jalan yang kami lalui lebih banyak offroad nya dari pada bagusnya. Si Jimny Owa, kendaraan lapangan kami beri nama, tidak hanya sekali atau dua kali trouble, macet dan bahkan kondisi jalan yang tidak memungkinkan kita harus siap menginap di manapun. Ketika kita akan menuju daerah brebes pegunungan pembarisan, hari sudah gelap dan kita tidak tau medan seperti apa jalan di depan, akhirnya kita harus menginap di samping kandang ayam yang aroma baunya sudah pasti tidak menyenangkan. Selanjutnya kendaraan yang bermasalah karena jauh dari bengkel tentu kita harus bisa memperbaikinya sendiri dengan tim kita. 
Jimny Owa lagi mogok di hutan

 #fieldworkfail 4. Sungai telen, Kalimantan timur, tahun 2009, 2010, banyak sekali cerita kegagalan selama di lapangan, karena kondisi alam yang tidak menentu. Ketika itu kami tim yang diturunkan untuk istilahnya babat alas untuk menyiapkan areal pelepas liaran orangutan. Yang selalu teringat di sana adalah ketika kita menyeberangi sungai yang dalam dan berbatu itu kita harus menggunakan “roller coaster” made in Pelangsiran itu. Setelah itu berkendara menggunakan kendaraan 4x4 menyusuri jalur bekas logging yang sudah tidak di gunakan lagi selama beberapa tahun. Jalur ini masih digunakan oleh pencari emas, pemburu gaharu dan sarang walet. Beberapa sungai besar dan arus deras juga harus kita lewati, dengan keterbatasan yang ada telah membuat para driver disini kreatif memodifikasi kendaraanya. Tidak hanya sekali atau dua kali kita harus track back ke camp karena kondisi sungai yang susah di lewati, sehingga harus menunggu sungai lebih mudah di lewati.


#fieldworkfail di Pedalaman Kalimantan Timur
Kiranya anda juga sering di lapangan atau dimanapun punya pengalaman #fieldworkfail cukuplah untuk menertawakan dirikita sendiri dan kita benar-benar bodoh pada waktu itu.semoga para monyet terus tersenyum-senyum sendiri.
Read more...