Monday, October 06, 2014

SwaraOwa

Tahun 2004 di pedalaman kalimantan tengah pada waktu itu, pertama kali saya mendengar suara Owa, perasaan itu masih terngiang sampai sekarang, karena waktu itu pagi hari pertamakali saya sampai distasiun penelitian barito ulu, merinding juga, kalau ingat suara itu, dan saya langsung berlari ke arah kolega saya yang mengajak saya ke tempat itu, dan saya menanyakan suara apakah itu?? Penasaran saya mencoba menebak itu suara burung...dan ternyata jawaban saya salah...itulah suara owa!!

Kira-kira begitulah awal saya berkenalan dengan owa, dan hampir 4 tahun terakhir ini lebih akrab dengan jenis owa yang ada di Jawa, Owajawa (Hylobates moloch). Dan mulai awal tahun 2014, saya mencoba apa yang saya lakukan di kalimantan tengah pada saat itu, untuk merekam suara owa dan juga melakukan sbuah studi awal tentang variasi suara owa di hutan Sokokembang. Persiapan tentuny perlu banyak tanya-tanya sana sini, baca sana baca sini, tentang alat rekam yang digunakan untuk merekam suara owa, sangat berbeda ketika itu di kalimatan saya menggunakan alat yang built-up, tinggal plug and play, saat itu masih menggunakan pita kaset untuk merekam dan juga telah menggunakan microphone khusus (directional microphone). 

Tujuan untuk merekam suara owa ini adalah awalnya untuk edukasi,menyebarluaskan pesan pelestarian hutan khususnya owajawa dan habitatnya. Karena menurut saya owa , adalah primata yang sangat atraktif, selain karakter morfologi, tingkah lakunya, owa jawa memilliki perilaku bersuara yang unik, dan layak untuk didengar kapanpun karena sepertinya mereka menyanyikan sebuah lagu.

Dengan budget yang terbatas tentunya tidak akan dapat membeli peralatan “recording” yang tangguh di lapangan, dan akhirnya pilihan tertuju pada sebuah directional microphone yang cukuk lazim untuk rekam suara satwaliar di alam, yaitu Rode NTG2 (http://www.rodemic.com/microphones/ntg-2) micropone ini saya dapatkan di salah satu toko audio di Jogja dengah harga Rp 2.500.000,-, dan keputusan untuk menggunakan smartphone sebagai perekam dan penyimpan data juga karena alasan budget terbatas itu tadi, dan setelah baca di artikel tentang penggunaan smartphone untuk wildlife sound recording disini. http://www.wildmountainechoes.com/equipment/audio-recording-with-a-smartphone

Setelah mendapatkan shotgunmic dan kebetulan smartphone juga telah ada, saatnya mencoba di lapangan dan melihat hasilnya seperti apa? Ujicoba selama beberapa hari di lapangan kesimpulannya saya perlu menambahkan sebuah pre-amp atau penguat pada microphone saya, dan itu memang di recomendasikan untuk merekam suara di alam/outdoor .Tapi lagi-lagi harga 1 unit pre-amp hampir kira-kira seharga microphone yang telah saya beli,tanya lagi ke berbagai sumber, bisa juga pre-amp di beli dengah harga murah asalkan mau sedikit repot, yaitu merakitnya sendiri. Custom pre-amp-DIY (dibuat sendiri) akhirnya jadi dengan konsultasi terlebih dulu dengan ahlinya (tukang elektronik). 

Dan hasilnya!! dengar dan rasakan bagaimana suasana hutan hujan tropis jawa, dimana Owa, monyet, burung, angin, serangga, daun, dan manusia saling berkomunikasi, berbicara...!!silahkan kesini http://swaraowa.blogspot.com/2014/08/sokokembang-rainforest-sound-recording.html. Atau follow account twitter project ini di https://twitter.com/swaraOwa 

Bahan bacaan : 
http://www.bioacoustics.info/
http://www.goodreads.com/book/show/948668.Field_and_Laboratory_Methods_in_Primatology Read more...

Thursday, July 03, 2014

Ketika Owajawa dan Kopi Menjadi Sebuah Bahasa Universal

Ketika anda minum secangkir kopi di rumah,ataupun di kafe, di warung kopi, apakah juga sudah terlintas dibenak anda dari mana secangkir kopi itu berasal? Bisa sebuah penelitian singkat ketika membeli kopi baca di bungkusnya, jenis kopinya apa, darimana asalnya dan di buat oleh siapa.
Sebenarnya awal dari project Kopi dan Konservasi Primata ini adalah ketika ketika melihat beberapa kawasan hutan yang ada di tempat lain yang juga terdapat Owa Jawa , terlihat lebih rusak karena penanaman kopi di hutan. Sementara di Sokokembang selain juga populasi Owa nya yang tinggi, kalau di bandingkan dengan tempat lain kerusakan hutan di sekitar dusun Sokokembang ini relative tidak separah di tempat lain.

Alasan lainnya adalah ketika kita ingin menyampaikan bahwa penting untuk menyelamatkan Owa Jawa sebagai binantang yang hanya ada di Pulau Jawa, akan sangat susah membangun logika ke masyarakat sekitar hutan bahwa apa pentingnya Owa bagi kehidupan mereka? Ketika kita mengajak “mari selamatkan Owajawa” manfaat langsungnya apa bagi mereka?sementara mereka masalah ekonomi menjadi kegiatan utama di hutan yang notabene primata-primata ini saat ini tersisa di jawa. mulai saat itulah kami mulai berkenalan dengan “dunia hitam” kopi.

Beberapa artikel tentang kopi naungan /shade grown coffee1 dan hasil penelitian kami2 menjadi landasan untuk bagaimana kami akan berkontribusi dalam pelestarian primata langka endemik jawa sekaligus memberikan solusi bawah pelestarian Owa jawa ini juga bisa menjadi solusi ekonomi bagi masayarakat sekitar hutan.

Studi awal tentang budidaya kopi di sokokembang juga di lakukan, selain dengan pelan namun pasti mendorong warga di dusun Sokokembang untuk lebih menghargai produk kopi hutannya. Tujuannya adalah agar orang lain di luar sokokembang juga mau menhargai lebih kopi dari hutan di sekitar mereka. Harapannya dengan pengolahan kopi yang tetap ramah hutan seperti ini, dengan sendirinya akan mengurangi tekanan terhadap hutan itu sendiri. Dengan ke unikan kondisi alam dan potensi Owa Jawa yang di miliki, dengan beberapa warga dusun Sokokembang kami menambahkan cerita asal-usul kopi Sokokembang ini dalam kemasan kopi bubuknya. Kopi yang tumbuh liar di hutan dan dengan proses tradisional yang tetap di pertahankan, yang tidak merusak hutan, adalah sebenarnya kontribusi yang nyata dari warga Sokokembang untuk pelestarian Owa jawa dan flora fauna yang unik yan ada di lahan kopi hutannya. 

Melalui kopi ini juga kami menyebarkan pesan pelestarian Owa jawa, tidak hanyak untuk warga sekitar hutan namun juga masyarakat pada umumnya, menjadikan Kopi dan Owa menjadi sebuah bahasa pergaulan universal yang harapannya akan mudah di terima oleh siapa pun, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi untuk pelestarian alam dan kemakmuran yang lestari. 

Selamat minum Kopi dan mari selamatkan Owa Jawa dan habitatnya.

1. https://docs.google.com/open?id=0B14jOutVwOB1cndqQ2tESjJZX3M 
2. http://www.coffeehabitat.com/ Read more...

Friday, June 06, 2014

Inspirasi sang Penjaga Hutan

Sosok pak Tasuri atau lebih akrabnya saya dan teman-teman memanggilnya Pak e (dalam bahasa jawa yang berarti Bapak), pertama kali berjumpa kira-kira di tahun 2007, waktu itu teman saya kemalaman di hutan, ketika sedang melakukan survey sebaran primata Jawa di Jawa Tengah. Waktu itu 2 teman saya singgah ke rumah pak Bau (kepala dusun), dan menanyakan dimana bisa numpang menginap, oleh Pak Bau waktu itu teman saya di sarankan untuk tidur di rumah pak RT. Kemudian setelah itu 2 teman saya di antar ke rumah di sebelah Pak Bau agak ke atas, Pak Tasuri waktu itu sebagai ketua RT di dusun Sokokembang.

 Sekilas cerita di atas adalah awal kami bertemu dengan Pak e, dan baru beberapa waktu kemudian setelah itu saya berkunjung ke Dusun Sokokembang, semenjak kedua teman saya lebih akrab dengan Pak e, Survey primata waktu itu kami butuh pendamping atau guide yang mengerti tentang hutan, tidak hanya sekedar pernah di hutan tapi juga pengetahuan penguasaan atau orientasi medan di hutan , dan mengetahui stidaknya ciri-ciri primata yang ada di hutan dan jenis-jenis pohon dalam bahasa setempat, dan itu sangat membantu selama survey primata di hutan. Orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman medan di hutan, waktu itu hanya kami temui Pak e, yang seorang pemburu, tinggal dan besar di hutan . Waktu itu pekerjaan pak tasuri bisa dibilang adalah berburu di hutan, binatang buruan khususnya burung-burung itu kemudian di jual atau di ambil pedagang lainnya di rumah. Dibelakang rumah waktu itu terlihat nyata sekali kandang burung terbuat dari jaring yang di kotak-kotak ukuran kira-kiran 25x25 cm berjajar, dengan isi berbagai jenis burung.

 Selain itu pada tahun-tahun awal beberapa kali menginap di rumah pak Tasuri sering kali teman-teman pemburu Pak e, juga datang dari luar desa, datang dan menginap dan kemudian berburu bersama Pak e. Pengetahuan dan pengalaman di hutan Pak e, inilah yang membawa saya dan teman-teman hingga saat ini terus berkegiatan dan memotivasi kami untuk terus melakukan kegiatan yang awalnya hanya penelitian untuk tujuan akademis sekarang lebih luas ke pelestarian primata dan hutan di Sokokembang dan Petungkriono pada umumnya. 

 Pak e ,seorang bapak dari 3 orang anak, selain ketiganya kini, beberapa anak-anak didiknya yang telah selesai menyelesaikan tugas akhir dibawah bimbingan seorang pak e yang mantan pemburu, telah berkarir di dunia masing-masing membawa pengalaman dari Sokokembang yang tentunya juga sangat berharga.

 Mulai saat itulah Pak e lebih akrab dengan dunia penelitian dan konservasi, hampir setiap tahun ada mahasiswa yang datang entah hanya berkunjung sebentar atau beberapa bulan melakukan penelitian tentang primata dan keanekaragaman hayati yang ada di hutan petungkriono. Pengetahuan tentang primata, jenis-jenis pohon hutan, kondisi medan dan kesabarannya melewati medan yang sulit menjadi teladan bagi kami dan memotivasi kami untuk terus melakukan penelitian dan pelestarian hutan dan semua fungsinya agar terus dapat di jaga dan dimanfaatkan secara lestari dan bijaksana. 

Hingga pada pertengahan tahun 2013, pekerjaan pak e yang selalu dengan sabar menemani dan membimbing para peneliti ini di dengar oleh pemerintah setempat (Kab. Pekalongan), Pak e mendapatkan penghargaan sebagai pegiat lingkungan tingkat kabupaten. Penghargaan ini di berikan pada saat pencanangan hari menanam pohon nasional di tingkat kabupaten Pekalongan. Penghargaan yang di serahkan langsung oleh bupati Kab. Pekalongan, setidaknya memberikan semangat tersendiri bagi Pak e dan keluarga besar di dusun Sokokembang.

 Tahun 2014 bulan Mei, salah satu televisi nasional melalui pemerintah Kec. Petungkriono menghubungi Pak e, dan Pak e akan di nominasikan jadi salah satu kandidat Liputan 6 award, sebuah program dari stasiun TV tersebut akan memberikan penghargaan kepada tokoh atau individu yang dapat menginspirasi masyarakat luas. Kunjungan dan pengambilan gambar juga telah dilakukan di dusun Sokokembang.Bercerita tentang Pak e yang dulu mantan pemburu kini telah berubah dan menjadi sosok yang penting bagi konservasi salah satu primata yang terancam punah. Tidak hanya itu keterlibatan Pak e secara langsung dalam program konservasi Owajawa dan Kopi,telah menumbuhkan semangat dan harapan baru bagi Pak e dan orang-orang disekitar habitat Owa jawa untuk menghargai apa yang ada di sekitar mereka. Owa, kopi dan hutan yang memberikan banyak manfaat untuk kehidupan. Semoga menginspirasi
Read more...

Monday, March 03, 2014

Kopilogi dan Primatologi, Secangkir Jawa untuk Owa

Ada kata-kata kolega saya, seorang primatologist, mengomentari postingan saya di sosial media tentang “kopi dan konservasi primata”,kira kira kata-katanya begini “ini dua hal yang saya cintai bertemu, minum kopi dan melestarikan primata”. Bukan sebuah kebetulan, berawal dari penelitian jenis-jenis monyet dan kera yang hampir punah di Jawa, Rekekan (Presbytis fredericae) dan Owa jawa (Hylobates moloch), akhirnya juga membawa saya terkait langsung dengan kopi. Dunia primata sudah mulai sejak masih di bangku kuliah, sementara dunia kopi tentu saja sama sekali baru, sekadar minum saja, tanpa berangan-angan sebenarnya proses, siapa, dan apa saja yang terlibat dalam secangkir kopi yang saya minum. “Kopilogi”/ coffeelogy ,mungkin istilah yang pas bagi saya untuk mengatakan bahwa kopi, seperti halnya primatology dimana merupakan segala sesuatu yang mempelajari tentang primata. “Kopilogi” adalah natural science tentang kopi, mulai dari species tanaman yang tumbuh di hutan, tanaman kopi, tempat tumbuh, petani, warung kopi, sampai ke bisnis multinasional yang katanya nilainya terbesar kedua setelah minyak bumi.

Berdasar penelitian sebelumnya, permasalahan konservasi Owa jawa, bisa dikatakan berbeda-beda di tiap lokasi 1,2., dan tentunya prioritas untuk mengatasi permasalahan ini berbeda juga. Kami mengambil fokus kegiatan di hutan dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kec.Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, sebagai salah satu site untuk mencari solusi dan memberikan kontribusi terbaik untuk permasalah konservasi Owa Jawa. Potongan hutan di antara sedemikian padatnya human habitat use, memberikan gambaran ketidak pastian akan kelestarian kera kecil –Owa Jawa di Jawa Tengah. Namun kawasan hutan Sokokembang merupakan kawasan penting dimana Owa jawa saat ini bisa bertahan hidup. 

Di hutan Sokokembang, disinilah bahwa praktik budidaya kopi di kawasan ini sebenarnya telah banyak berpengaruh terhadap masa depan kelestarian Owa dan juga secara langsung secara ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan tempat Owa di mana berada. Mulai dari sini, pelajaran tentang kopi bermula, yang kemudian mungkin lebih pasnya saya istilahkan “kopilogi”.Tapi sungguh ini sebuah pengalaman yang sangat berharga buat saya, karena dari kegiatan ini menambah banyak pengalaman dan pengetahuan baru mengenai kopi. Seperti di “primatologi”, “kopilogi” juga saya kira masih mempunyai bidang-bidang lebih khusus yang mempelajari dan mempraktekkan tentang ilmu kopi ini. 

Sinergi antara pelestarian alam dan kopi juga sebenarnya bukan bidang baru 3, beberapa kawasan penghasil kopi di negara lain telah terlebih dahulu memulai bidang ini. Sistem budidaya dengan mempertahankan naungan juga menjadi satu hal yang menarik untuk di terapkan juga mengingat kondisi di Jawa,  dengan semakin padatnya populasi manusia mengakibatkan  peningkatan tekanan terhadap sumberdaya hutan dan alam pada umumnya 4

Kembali ke cerita awal saya di hutan sokokembang dan kopinya, tanpa kepedulian bersama bukan tidak mungkin cita rasa kopi Jawa yang sudah di akui di seluruh dunia juga species primata yang unik akan hilang begitu saja. “Kopilogi dan Primatologi " akan semakin menarik untuk di pelajari tetapi juga di terapkan langsung dilapangan untuk kelestarian alam dan untuk kemakmuran. Melengkapi cerita kopi Jawa yang sudah mendunia cita rasanya, Owa Jawa sudah tentu akan menjadi sebuah kebanggaan bagi kita semua, dimana tempat hidupnya saat ini berada dari tempat dimana kopi yang paling nikmat rasanya . Selamat minum kopi.! 

Daftar pustaka : 
1. Arif Setiawan, Tejo Suryo Nugroho, Yohannes Wibisono, Vera Ikawati, Jito Sugarjito, 2012, Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas (1) no.1, p. 23-27 
2. Setiawan, A., Y. Wibisono, T.S. Nugroho, I.Y. Agustin, M. A.Imron, S.P, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No. 2, p. 51-54 
4. Moguel, P., and V.M. Toledo. 1999. Biodiversity conservation in traditional coffee systems of Mexico. Conservation Biology 13: 11–21
Read more...

Wednesday, December 04, 2013

Primata Hutan Sokokembang: alaternatif kegiatan wisata, pendikan lingkungan dan pelestarian alam

Melihat binantang di kebun binatang sudah sering kita lakukan, ada banyak hal yang menyebabkan kita jadi tertarik untuk melihat binatang tersebut, bisa dari tingkah lakunya, warna bulunya, ataupun suaranya. Sudah tentu kita juga disajikan dengan pemandangan yang sangat terbatas di kebun binatang tersebut, tempat atau kandang, sumber pakan, ataupun tingkah laku yang kadang juga sangat terpengaruh oleh pengunjung lainnya yang ada di kandang tersebut. Sebuah pengalaman di alam adalah akan sangat mudah di ingat ketika kita menjumpai seekor bintang ataupun hal-hal yang masih sifatnya alami. Bagaimana tingkah laku mereka,bentuk tubuh dan warna bulu, dan juga makanan alami mereka di hutan, tentu ada perbedaan dengan yang di kebun binatang. Mengingat saat ini kondisi alam tempat binatang tinggal tersebut semakin lama semakin hilang ataupun rusak, jadi menjumpai binatang atau satwaliar di habitat alamnya adalah hal yang sangat jarang terjadi atau tidak setiap saat bisa kita lakukan. Namun cerita tersebut di atas masih sangat mungkin terjadi di hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriono. Melihat binatang-binatang di tempat asalnya bisa menjadi sesuatu yang memang tidak bisa di lupakan. Hutan Sokokembang adalah salah satu di antara hutan hujan tropis yang tersisa di Pulau Jawa, dan kalau kita senang dengan jenis-jenis primata (monyet dan kera) disinilah tempatnya untuk melihat langsung di habitat aslinya. Di hutan ini terdapat 4 jenis primata yaitu,3 jenis di antaranya adalah endemik Jawa hanya ada di Pulau Jawa dan sebaran alaminya tidak di jumpai di tempat lain di dunia, yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)dan Rekrekan (Presbytis comata) dan satu jenis lagi yang umum di jumpai adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Pengamatan primata tidak hanya sekedar melihat jenis primata yang kita temui, namun ini juga bisa dikatakan sebagai aktifitas untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan pendidikan tentang alam, bahkan berkontribusi secara langsung untuk meningkatkan perekonomian penduduk sekitar hutan. Karena kegiatan ini di alam, pengamatan primata di hutan tentu sangat berbeda dengan di kebun binatang yang bisa datang setiap saat dan pasti binatangnya ada di tempat tersebut. Setidaknya sebelum pengamatan primata di habitat alaminya, perlu informasi awal terlebih dahulu sebagai referensi atau persiapan ,diantaranya: 
1. waktu-waktu tertentu dimana primata tersebut ber aktifitas, karena ini pengamatan di alam informasi mengenai jam-jam aktifitas primata yang akan kita amati sangatlah penting, karena untuk mempertinggi kemungkinan perjumpaan kita,biasanya untuk jenis-jenis primata akan aktif pada pagi hari antara jam 06.00- jam 10.00, dan kemudian sore hari antara jam 15.00-18.00. beberapa sumber di internet juga bisa menjadi rujukan untuk sebagai informasi awal tentang primata yang akan kita amati. 
2. lokasi , ini juga informasi penting di awal yang harus kita kumpulkan untuk mengamati, bisa kita dapatkan dari penduduk setempat ataupun hasil-hasil penelitian sebelumnya di wilayah yang akan kita amati primatanya. 
3.peralatan , karena keterbatasan kemampuan mata kita, untuk mengamati primata di alam kita butuh alat bantu yaitu Binokuler atau Teropong, banyak tipe jenis binokuler, bisa di lihat di sini, sangat di rekomendasikan karena ukuran yang tidak terlalu berat dan namun memiliki kemampuan yang baik di lapangan. Peralatan tambahan yang juga perlu di bawa adalah camera, karena moment atau peristiwa di alam kadang tidak bisa di ulang lagi, maka dokumentasi seperti camera juga sangat penting di persiapkan sebelum kita mengamati primata. 
4. pendamping pengamatan, ini juga bisa menjadi alternatif tambahan saja agar pengamatan kita bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak, pendamping bisa kita cari atau minta penduduk setempat di sekitar hutan atau peneliti primata yang ada di lokasi tersebut. 
Pengamatan primata (primate watching), di hutan tempat asal binatang tersebut berada seperti di hutan Sokokembang, selain bermanfaat untuk kita yang mengamati karena melihat landscape hutan yang tidak setiap saat kita jumpai, selain itu kita juga harus faham bahwa mengamati primata di habitat alamnya juga belum tentu langsung ketemu dengan yang ingin kita amati, dan binatang yang kita amati adalah selalu bergerak kemana mereka suka. Hal ini tentu memerlukan waktu untuk di alokasikan ketika kita akan mengamati primata di alam. Namun demikian ini tentu juga bermanfaat untuk mendorong kegiatan konservasi species langka dan hampir punah yang kita amati. Kegiatan tersebut karena bisa bersifat edukatif dan peningkatan pengetahuan kepada kita , juga akan memberikan manfaat secara langsung kepada penduduk sekitar hutan, karena bisa menambah perekonomian dari jasa yang disediakan untuk menginap ataupun menjadi pendamping pengamatan. 

Daftar pustaka dan sumber di internet tentang primata :
http://www.iucnredlist.org/
http://monyetdaun.blogspot.com/ 
http://www.alltheworldsprimates.org/Home.aspx 

Arif Setiawan, Tejo Suryo Nugroho, Yohannes Wibisono, Vera Ikawati, Jito Sugarjito, 2012, Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas (1) no.1, p. 23-27 

Arif Setiawan, Yohannes Wibisono, Tejo Suryo Nugroho, Ika Yuni Agustin, Mohamad Ali Imron, Satyawan Pudyatmoko, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No. 2, p. 51-54 Read more...

Thursday, September 05, 2013

Owa Jawa, Kopi, dan Hutan Sokokembang

Kesempatan memperkenalkan Owa Jawa pada masyarakat umum di Pekalongan akhirnya tiba, acara Kajen expo 2013, dilaksanakan tanggal 25-31 Agustus 2013  kami gunakan sebagai media untuk menyebarkan informasi tentang konservasi Owa Jawa. Sambutan luar biasa juga karena lewat produk kopi yang di siapkan oleh kelompok tani di dusun Sokokembang, masyarakat pekalongan setidaknya tahu masih  ada Owa Jawa, dan masih ada hutan di sekitar mereka, terlebih lagi bagi para pecinta kopi, hutan Sokokembang juga menghasilkan kopi yang "penthol" kopi yang "juara", kopi yang "enake por".  Read more...

Pekalongan Bangga Punya Owa dan Kopi enak

Selebaran atau leaflet, dalam bahasa pekalongan untuk memperkenalkan Owa Jawa, hutan sebagai tempat hidup Owa Jawa dan kopi sebagai salah satu produk hutan Sokokembang, kepada masyarakat pekalongan pada umumnya.

Read more...

Friday, August 16, 2013

Metode Survey Primata

Salah satu permasalahan konservasi primata khususnya di wilayah Jawa Tengah adalah minimnya pengetahuan dan pengalaman akan metode survey primata.Survey primata untuk konservasi adalah upaya mengumpulkan informasi terkait dengan keberadaan primata yang akurat yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk mendukung program kegiatan konservasi. Beberapa waktu yang lalu bersama Yogyakarta Primate Study Club, kegiatan pelatihan metode survey primata ini telah di lakukan sebagai bagian dari program konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah. Bertempat di hutan sokokembang, ds. Kayupuring, Kec. Petungkriono,dusun di tengah hutan yang juga sekaligus saat ini sebagai tempat penelitian Owa Jawa di wilayah kab. Pekalongan. Kuranglebih 15 orang peserta,dari mahasiswa dan staff lembaga terkait bergabung di acara ini. Acara ini merupakan pengenalan dua metode survey primata yang paling umum di gunakan untuk survey primata, lebih khusus lagi untuk survey Owa jawa. Ada dua metode yang di kenalkan dalam 3 hari training ini yaitu metode line transect dan Vocal count. Kedua metode ini sama-sama bisa digunakan untuk survey Owa, yang pertama berdasarkan perjumpaan langsung dan yang kedua adalah berdasarkan suara. Banyak pertimbagan pemilihan metode survey, tergantung dari tujuan survey, waktu, tenaga, kondisi geografis, dll. Sebelum menentukan metode, sangat penting merumuskan dulu tujuan dan faktor-faktor tersebut diatas. Karena acara ini memang di tujukan untuk masyarakat umum yang peduli akan konservasi Owa Jawa dan  primata di Jawa Tengah khsusnya, maka bagi yang tertarik akan hal ini atau kegiatan konservasi priamata di Jawa Tengah dapat mengunduh materi-materi selama 3 hari training di sini. Dan kegiatan ini sepenuhnya di dukung oleh Fortwayne Children Zoo dan Rufford small grant. Read more...