Tuesday, April 28, 2015

SwaraOwa


Semenjak membantu menjadi salah satu admin twitter @Swaraowa, sepertinya kesibukan nulis blog ini semakin menurun, menulis singkat beberapa kata dengan foto, atau kadang hanya foto saja ternyata membuat ketagihan, apalagi ada semacam rasa senang atau apalah ya ketika ocehan kita di re tweet oleh orang yang lebih senior di twitter atau followernya udah ribuan atau jutaan.

Terlepas dari itu, sebenarnya bukan tidak sengaja saya dan teman-teman lebih aktif di media sosial khususnya twitter, karena memang tujuan kita adalah memperluas sasaran audience dari kegiatan pelestarian kita di sokokembang Petungkriyono. Peningkatan kesadaran konservasi sepertinya masih menjadi salah satu bagian prioritas dari upaya pelestarian alam di bagian bumi yang mengalami ancaman kepunahan. Kira-kira saat ini ada lebih dari 2 milyar akun media sosial dengan banyak platform (facebook ,twitter, instagram, pinterest,watsapp, g+,dll) bisa dibayangkan kalau kita coba aktif di salah satu media sosial tersebut setidaknya ada kemungkinan lebih dari 20 persen penduduk di bumi bisa kita ajak bersama-sama untuk melestarikan alam. 

Bukan sekedar membuat akun untuk biar lebih dikenal saja, namun setidaknya hal ini kita lakukan untuk meningkatkan dampak positif dari upaya pelestarian alam melalui sosial. silahkan platform apa yang akan anda pilih, dan mari kita bersama mengajak melestarikan alam ini. Silahkan follow, RT marii...sampai jumpa di @swaraOwa


Bacaan :


Read more...

Monday, March 09, 2015

Applikasi Smartphone Untuk Penelitian Primata dan Konservasi

tampilan  foto dengan applikasi geocam

Smartphone sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk kegiatan sehari-hari, banyak kemudahan dan penyederhaan fungsi dari peralatan yang dapat di jumpai dalam smartphone, tentunya dengan instalasi applikasi yang sesuai. Kegiatan penelitian dan pengamatan/monitoring primata hutan sokokembang telah 2 tahun terakhir ini menggunakan smartphone untuk dilapangan, tentunya dengan dukungan applikasi yang sesuai akan mempermudah data collection dan kegiatan pelestarian pada umumnya .

Salah satu applikasi dalam smarphone yang telah dan sedang kita gunakan untuk monitoring Owajawa adalah “Geocam”. Applikasi ini menggabungkan beberapa peralatan sekaligus yang sebelumnya digunakan untuk monitoring owa. Silahkan download disini, dan silahkan coba-coba dulu untuk penggunaan alat ini. Untuk monitoring owajawa, biasanya setidaknya kita akan mencatat tentang data tanggal, posisi koordinat, arah kompas (untuk mencatat arah datangnya suara), foto dll. Geocam sudah mencakup itu smua dalam satu sentuhan, prinsip geotagging pada foto di dukung hardware gps yang ada dalam smartphone sangat membantu. Selain itu dalam tampilan frame foto yang di ambil dalam applikasi ini juga mencatat arah kompas. Dan ini sangat di penting ketika mencatat sudut datang suara owa.

Saat kita sudah sampai di listening post , biasanya kita akan menunggu owa bersuara, dengan smartphone kini, fungi gps handheld, kompas, camera saku, sudah di gantikan. Untuk penggunaan applikasi ini perlu di kalibrasi terlbih dahulu dengan memutar smarphone kita beberapa kali, pada posisi yang rata. Kemudian pencatatan data vocal count, sebaiknya menunggu posisi gps dengan tingkat akurasi kurang dari 10 meter. Kemudian waktu mendengar kelompok owa bersuara, kita tinggal menunggu beberapa saat untuk memotret arah datangnya suara, dan ketika eror gps sudah kira-kira di bawah 10 meter, foto bisa kisa simpan. Selanjutnya bisa kita kombinasikan dengan applikasi yang lain untuk pengelolaan data dan analisisnya. Selamat mencoba!! Read more...

Sunday, January 18, 2015

Jebakan camera di hutan Owa

Akhir tahun 2014, penelitian dan kegiatan konservasi Owa di hutan Sokokembang telah dan sedang menggunakan alat baru, yaitu camera trap. Pengertian camera trap bisa langsung ke link ini saja. http://en.wikipedia.org/wiki/Camera_trap.

Kali ini kami mencoba menggunakan camera trap untuk melihat jenis-jenis satwa yang jarang di jumpai di hutan owa, sekaligus inisiasi awal dari penelitian keanekaragaman mamalia kecil di habitat kopi hutan Sokokembang. Dua bulan pemasangan camera trap ini menjadi pengalaman kami bagaimana menempatkan camera trap.

Kamera ini juga bisa merekan video, perilaku satwa juga dapat dengan mudah di amati dari video yang terekam. Beberapa hasil camera juga sangat penting untuk data keanekaragaman hayati dan kedepan juga dapat digunakan sebagai justifikasi pentingnya melindungi kawasan ini sebagai habitat satwaliar yang hanya ada di habitat habitat tertentu. Kedepan penggunaan camera trap di hutan Sokokembang dapat bisa juga untuk mengetahui perilaku jenis-jenis satwaliar yang pemalu, sulit di amati. Jenis-jenis mamalia kecil juga sangat penting keberadaanya di hutan karena mereka sebenarnya juga mempunyai peran penting bagi hutan. Sepeti musang, luwak atau bajing, mereka juga membantu regenerasi hutan, dengan menyebarkan biji-bijian pohon hutan.

Dan masih menunggu hasil-hasil dari camera trap ini....
Read more...

Monday, October 06, 2014

SwaraOwa

Tahun 2004 di pedalaman kalimantan tengah pada waktu itu, pertama kali saya mendengar suara Owa, perasaan itu masih terngiang sampai sekarang, karena waktu itu pagi hari pertamakali saya sampai distasiun penelitian barito ulu, merinding juga, kalau ingat suara itu, dan saya langsung berlari ke arah kolega saya yang mengajak saya ke tempat itu, dan saya menanyakan suara apakah itu?? Penasaran saya mencoba menebak itu suara burung...dan ternyata jawaban saya salah...itulah suara owa!!

Kira-kira begitulah awal saya berkenalan dengan owa, dan hampir 4 tahun terakhir ini lebih akrab dengan jenis owa yang ada di Jawa, Owajawa (Hylobates moloch). Dan mulai awal tahun 2014, saya mencoba apa yang saya lakukan di kalimantan tengah pada saat itu, untuk merekam suara owa dan juga melakukan sbuah studi awal tentang variasi suara owa di hutan Sokokembang. Persiapan tentuny perlu banyak tanya-tanya sana sini, baca sana baca sini, tentang alat rekam yang digunakan untuk merekam suara owa, sangat berbeda ketika itu di kalimatan saya menggunakan alat yang built-up, tinggal plug and play, saat itu masih menggunakan pita kaset untuk merekam dan juga telah menggunakan microphone khusus (directional microphone). 

Tujuan untuk merekam suara owa ini adalah awalnya untuk edukasi,menyebarluaskan pesan pelestarian hutan khususnya owajawa dan habitatnya. Karena menurut saya owa , adalah primata yang sangat atraktif, selain karakter morfologi, tingkah lakunya, owa jawa memilliki perilaku bersuara yang unik, dan layak untuk didengar kapanpun karena sepertinya mereka menyanyikan sebuah lagu.

Dengan budget yang terbatas tentunya tidak akan dapat membeli peralatan “recording” yang tangguh di lapangan, dan akhirnya pilihan tertuju pada sebuah directional microphone yang cukuk lazim untuk rekam suara satwaliar di alam, yaitu Rode NTG2 (http://www.rodemic.com/microphones/ntg-2) micropone ini saya dapatkan di salah satu toko audio di Jogja dengah harga Rp 2.500.000,-, dan keputusan untuk menggunakan smartphone sebagai perekam dan penyimpan data juga karena alasan budget terbatas itu tadi, dan setelah baca di artikel tentang penggunaan smartphone untuk wildlife sound recording disini. http://www.wildmountainechoes.com/equipment/audio-recording-with-a-smartphone

Setelah mendapatkan shotgunmic dan kebetulan smartphone juga telah ada, saatnya mencoba di lapangan dan melihat hasilnya seperti apa? Ujicoba selama beberapa hari di lapangan kesimpulannya saya perlu menambahkan sebuah pre-amp atau penguat pada microphone saya, dan itu memang di recomendasikan untuk merekam suara di alam/outdoor .Tapi lagi-lagi harga 1 unit pre-amp hampir kira-kira seharga microphone yang telah saya beli,tanya lagi ke berbagai sumber, bisa juga pre-amp di beli dengah harga murah asalkan mau sedikit repot, yaitu merakitnya sendiri. Custom pre-amp-DIY (dibuat sendiri) akhirnya jadi dengan konsultasi terlebih dulu dengan ahlinya (tukang elektronik). 

Dan hasilnya!! dengar dan rasakan bagaimana suasana hutan hujan tropis jawa, dimana Owa, monyet, burung, angin, serangga, daun, dan manusia saling berkomunikasi, berbicara...!!silahkan kesini http://swaraowa.blogspot.com/2014/08/sokokembang-rainforest-sound-recording.html. Atau follow account twitter project ini di https://twitter.com/swaraOwa 

Bahan bacaan : 
http://www.bioacoustics.info/
http://www.goodreads.com/book/show/948668.Field_and_Laboratory_Methods_in_Primatology Read more...

Thursday, July 03, 2014

Ketika Owajawa dan Kopi Menjadi Sebuah Bahasa Universal

Ketika anda minum secangkir kopi di rumah,ataupun di kafe, di warung kopi, apakah juga sudah terlintas dibenak anda dari mana secangkir kopi itu berasal? Bisa sebuah penelitian singkat ketika membeli kopi baca di bungkusnya, jenis kopinya apa, darimana asalnya dan di buat oleh siapa.
Sebenarnya awal dari project Kopi dan Konservasi Primata ini adalah ketika ketika melihat beberapa kawasan hutan yang ada di tempat lain yang juga terdapat Owa Jawa , terlihat lebih rusak karena penanaman kopi di hutan. Sementara di Sokokembang selain juga populasi Owa nya yang tinggi, kalau di bandingkan dengan tempat lain kerusakan hutan di sekitar dusun Sokokembang ini relative tidak separah di tempat lain.

Alasan lainnya adalah ketika kita ingin menyampaikan bahwa penting untuk menyelamatkan Owa Jawa sebagai binantang yang hanya ada di Pulau Jawa, akan sangat susah membangun logika ke masyarakat sekitar hutan bahwa apa pentingnya Owa bagi kehidupan mereka? Ketika kita mengajak “mari selamatkan Owajawa” manfaat langsungnya apa bagi mereka?sementara mereka masalah ekonomi menjadi kegiatan utama di hutan yang notabene primata-primata ini saat ini tersisa di jawa. mulai saat itulah kami mulai berkenalan dengan “dunia hitam” kopi.

Beberapa artikel tentang kopi naungan /shade grown coffee1 dan hasil penelitian kami2 menjadi landasan untuk bagaimana kami akan berkontribusi dalam pelestarian primata langka endemik jawa sekaligus memberikan solusi bawah pelestarian Owa jawa ini juga bisa menjadi solusi ekonomi bagi masayarakat sekitar hutan.

Studi awal tentang budidaya kopi di sokokembang juga di lakukan, selain dengan pelan namun pasti mendorong warga di dusun Sokokembang untuk lebih menghargai produk kopi hutannya. Tujuannya adalah agar orang lain di luar sokokembang juga mau menhargai lebih kopi dari hutan di sekitar mereka. Harapannya dengan pengolahan kopi yang tetap ramah hutan seperti ini, dengan sendirinya akan mengurangi tekanan terhadap hutan itu sendiri. Dengan ke unikan kondisi alam dan potensi Owa Jawa yang di miliki, dengan beberapa warga dusun Sokokembang kami menambahkan cerita asal-usul kopi Sokokembang ini dalam kemasan kopi bubuknya. Kopi yang tumbuh liar di hutan dan dengan proses tradisional yang tetap di pertahankan, yang tidak merusak hutan, adalah sebenarnya kontribusi yang nyata dari warga Sokokembang untuk pelestarian Owa jawa dan flora fauna yang unik yan ada di lahan kopi hutannya. 

Melalui kopi ini juga kami menyebarkan pesan pelestarian Owa jawa, tidak hanyak untuk warga sekitar hutan namun juga masyarakat pada umumnya, menjadikan Kopi dan Owa menjadi sebuah bahasa pergaulan universal yang harapannya akan mudah di terima oleh siapa pun, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi untuk pelestarian alam dan kemakmuran yang lestari. 

Selamat minum Kopi dan mari selamatkan Owa Jawa dan habitatnya.

1. https://docs.google.com/open?id=0B14jOutVwOB1cndqQ2tESjJZX3M 
2. http://www.coffeehabitat.com/ Read more...

Friday, June 06, 2014

Inspirasi sang Penjaga Hutan

Sosok pak Tasuri atau lebih akrabnya saya dan teman-teman memanggilnya Pak e (dalam bahasa jawa yang berarti Bapak), pertama kali berjumpa kira-kira di tahun 2007, waktu itu teman saya kemalaman di hutan, ketika sedang melakukan survey sebaran primata Jawa di Jawa Tengah. Waktu itu 2 teman saya singgah ke rumah pak Bau (kepala dusun), dan menanyakan dimana bisa numpang menginap, oleh Pak Bau waktu itu teman saya di sarankan untuk tidur di rumah pak RT. Kemudian setelah itu 2 teman saya di antar ke rumah di sebelah Pak Bau agak ke atas, Pak Tasuri waktu itu sebagai ketua RT di dusun Sokokembang.

 Sekilas cerita di atas adalah awal kami bertemu dengan Pak e, dan baru beberapa waktu kemudian setelah itu saya berkunjung ke Dusun Sokokembang, semenjak kedua teman saya lebih akrab dengan Pak e, Survey primata waktu itu kami butuh pendamping atau guide yang mengerti tentang hutan, tidak hanya sekedar pernah di hutan tapi juga pengetahuan penguasaan atau orientasi medan di hutan , dan mengetahui stidaknya ciri-ciri primata yang ada di hutan dan jenis-jenis pohon dalam bahasa setempat, dan itu sangat membantu selama survey primata di hutan. Orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman medan di hutan, waktu itu hanya kami temui Pak e, yang seorang pemburu, tinggal dan besar di hutan . Waktu itu pekerjaan pak tasuri bisa dibilang adalah berburu di hutan, binatang buruan khususnya burung-burung itu kemudian di jual atau di ambil pedagang lainnya di rumah. Dibelakang rumah waktu itu terlihat nyata sekali kandang burung terbuat dari jaring yang di kotak-kotak ukuran kira-kiran 25x25 cm berjajar, dengan isi berbagai jenis burung.

 Selain itu pada tahun-tahun awal beberapa kali menginap di rumah pak Tasuri sering kali teman-teman pemburu Pak e, juga datang dari luar desa, datang dan menginap dan kemudian berburu bersama Pak e. Pengetahuan dan pengalaman di hutan Pak e, inilah yang membawa saya dan teman-teman hingga saat ini terus berkegiatan dan memotivasi kami untuk terus melakukan kegiatan yang awalnya hanya penelitian untuk tujuan akademis sekarang lebih luas ke pelestarian primata dan hutan di Sokokembang dan Petungkriono pada umumnya. 

 Pak e ,seorang bapak dari 3 orang anak, selain ketiganya kini, beberapa anak-anak didiknya yang telah selesai menyelesaikan tugas akhir dibawah bimbingan seorang pak e yang mantan pemburu, telah berkarir di dunia masing-masing membawa pengalaman dari Sokokembang yang tentunya juga sangat berharga.

 Mulai saat itulah Pak e lebih akrab dengan dunia penelitian dan konservasi, hampir setiap tahun ada mahasiswa yang datang entah hanya berkunjung sebentar atau beberapa bulan melakukan penelitian tentang primata dan keanekaragaman hayati yang ada di hutan petungkriono. Pengetahuan tentang primata, jenis-jenis pohon hutan, kondisi medan dan kesabarannya melewati medan yang sulit menjadi teladan bagi kami dan memotivasi kami untuk terus melakukan penelitian dan pelestarian hutan dan semua fungsinya agar terus dapat di jaga dan dimanfaatkan secara lestari dan bijaksana. 

Hingga pada pertengahan tahun 2013, pekerjaan pak e yang selalu dengan sabar menemani dan membimbing para peneliti ini di dengar oleh pemerintah setempat (Kab. Pekalongan), Pak e mendapatkan penghargaan sebagai pegiat lingkungan tingkat kabupaten. Penghargaan ini di berikan pada saat pencanangan hari menanam pohon nasional di tingkat kabupaten Pekalongan. Penghargaan yang di serahkan langsung oleh bupati Kab. Pekalongan, setidaknya memberikan semangat tersendiri bagi Pak e dan keluarga besar di dusun Sokokembang.

 Tahun 2014 bulan Mei, salah satu televisi nasional melalui pemerintah Kec. Petungkriono menghubungi Pak e, dan Pak e akan di nominasikan jadi salah satu kandidat Liputan 6 award, sebuah program dari stasiun TV tersebut akan memberikan penghargaan kepada tokoh atau individu yang dapat menginspirasi masyarakat luas. Kunjungan dan pengambilan gambar juga telah dilakukan di dusun Sokokembang.Bercerita tentang Pak e yang dulu mantan pemburu kini telah berubah dan menjadi sosok yang penting bagi konservasi salah satu primata yang terancam punah. Tidak hanya itu keterlibatan Pak e secara langsung dalam program konservasi Owajawa dan Kopi,telah menumbuhkan semangat dan harapan baru bagi Pak e dan orang-orang disekitar habitat Owa jawa untuk menghargai apa yang ada di sekitar mereka. Owa, kopi dan hutan yang memberikan banyak manfaat untuk kehidupan. Semoga menginspirasi
Read more...

Monday, March 03, 2014

Kopilogi dan Primatologi, Secangkir Jawa untuk Owa

Ada kata-kata kolega saya, seorang primatologist, mengomentari postingan saya di sosial media tentang “kopi dan konservasi primata”,kira kira kata-katanya begini “ini dua hal yang saya cintai bertemu, minum kopi dan melestarikan primata”. Bukan sebuah kebetulan, berawal dari penelitian jenis-jenis monyet dan kera yang hampir punah di Jawa, Rekekan (Presbytis fredericae) dan Owa jawa (Hylobates moloch), akhirnya juga membawa saya terkait langsung dengan kopi. Dunia primata sudah mulai sejak masih di bangku kuliah, sementara dunia kopi tentu saja sama sekali baru, sekadar minum saja, tanpa berangan-angan sebenarnya proses, siapa, dan apa saja yang terlibat dalam secangkir kopi yang saya minum. “Kopilogi”/ coffeelogy ,mungkin istilah yang pas bagi saya untuk mengatakan bahwa kopi, seperti halnya primatology dimana merupakan segala sesuatu yang mempelajari tentang primata. “Kopilogi” adalah natural science tentang kopi, mulai dari species tanaman yang tumbuh di hutan, tanaman kopi, tempat tumbuh, petani, warung kopi, sampai ke bisnis multinasional yang katanya nilainya terbesar kedua setelah minyak bumi.

Berdasar penelitian sebelumnya, permasalahan konservasi Owa jawa, bisa dikatakan berbeda-beda di tiap lokasi 1,2., dan tentunya prioritas untuk mengatasi permasalahan ini berbeda juga. Kami mengambil fokus kegiatan di hutan dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kec.Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, sebagai salah satu site untuk mencari solusi dan memberikan kontribusi terbaik untuk permasalah konservasi Owa Jawa. Potongan hutan di antara sedemikian padatnya human habitat use, memberikan gambaran ketidak pastian akan kelestarian kera kecil –Owa Jawa di Jawa Tengah. Namun kawasan hutan Sokokembang merupakan kawasan penting dimana Owa jawa saat ini bisa bertahan hidup. 

Di hutan Sokokembang, disinilah bahwa praktik budidaya kopi di kawasan ini sebenarnya telah banyak berpengaruh terhadap masa depan kelestarian Owa dan juga secara langsung secara ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan tempat Owa di mana berada. Mulai dari sini, pelajaran tentang kopi bermula, yang kemudian mungkin lebih pasnya saya istilahkan “kopilogi”.Tapi sungguh ini sebuah pengalaman yang sangat berharga buat saya, karena dari kegiatan ini menambah banyak pengalaman dan pengetahuan baru mengenai kopi. Seperti di “primatologi”, “kopilogi” juga saya kira masih mempunyai bidang-bidang lebih khusus yang mempelajari dan mempraktekkan tentang ilmu kopi ini. 

Sinergi antara pelestarian alam dan kopi juga sebenarnya bukan bidang baru 3, beberapa kawasan penghasil kopi di negara lain telah terlebih dahulu memulai bidang ini. Sistem budidaya dengan mempertahankan naungan juga menjadi satu hal yang menarik untuk di terapkan juga mengingat kondisi di Jawa,  dengan semakin padatnya populasi manusia mengakibatkan  peningkatan tekanan terhadap sumberdaya hutan dan alam pada umumnya 4

Kembali ke cerita awal saya di hutan sokokembang dan kopinya, tanpa kepedulian bersama bukan tidak mungkin cita rasa kopi Jawa yang sudah di akui di seluruh dunia juga species primata yang unik akan hilang begitu saja. “Kopilogi dan Primatologi " akan semakin menarik untuk di pelajari tetapi juga di terapkan langsung dilapangan untuk kelestarian alam dan untuk kemakmuran. Melengkapi cerita kopi Jawa yang sudah mendunia cita rasanya, Owa Jawa sudah tentu akan menjadi sebuah kebanggaan bagi kita semua, dimana tempat hidupnya saat ini berada dari tempat dimana kopi yang paling nikmat rasanya . Selamat minum kopi.! 

Daftar pustaka : 
1. Arif Setiawan, Tejo Suryo Nugroho, Yohannes Wibisono, Vera Ikawati, Jito Sugarjito, 2012, Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas (1) no.1, p. 23-27 
2. Setiawan, A., Y. Wibisono, T.S. Nugroho, I.Y. Agustin, M. A.Imron, S.P, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No. 2, p. 51-54 
4. Moguel, P., and V.M. Toledo. 1999. Biodiversity conservation in traditional coffee systems of Mexico. Conservation Biology 13: 11–21
Read more...